Wabah Covid 19

Wabah Itu Bisa Ditaklukkan

KETIKA itu, tampak ribuan manusia tak berdaya, kebingungan, panik adapula yang tunggang-langgang pergi dari arena Kurusetra. Seluruhnya memegang dada masing-masing seperti merasakan panas di dada, bersamaan dengan itu batuk tersengal dialami oleh para pasukan yang mengeluh tiba-tiban merasa sakit kepala, tak lama kemudian mereka roboh terkapar.

Tak jauh dari laga pertempuran, seorang panglima perang tersenyum sumringah menyaksikan kejadian yang aneh dan mengerikan itu, dialah Prabu Salya, kakek dari Pandawa Lima.

Ternyata keadaan itu sudah direncanakan dan memang sengaja dibuat, dengan tujuan, menunggu lawan seimbang yang akan dimajukan oleh pihak Pandawa. Dan itu merupakan ajian pamungkasnya yang semata-mata untuk mengakhiri hidupnya sendiri.

Prabu Salya mengetahui benar jika ajian Candrabirawa miliknya itu ada yang bisa menangkalnya. Hanya saja, dia tak mengetahui siapa.

Di seberang lautan manusia yang sedang berperang itu, dengan pandangan batinnya yang tajam, Kresna menyaksikan betapa mengerikan ajian Candrabirawa itu dibuat oleh Prabu Salya yang semakin lama terus membelah diri dari satu menjadi dua, empat, delapan, enambelas hingga kelipatannya dalam menjangkiti semua orang.

Pandawa yang berada disisi Kresna, menatap cemas, menyaksikan ribuan manusia menjadi korban keganasan mahluk tak kasat mata itu. “Kini, saatnya kau maju ke medan peperangan, wahai adikku Yudhistira, karena tak ada yang bisa menandingi kakek Nakula dan Sadewa itu kecuali dirimu,” ucap Krisna yang menambahkan bahsa perbuatan yang dilakukan Prabul Salya terlampau kejam.

Yudhistira yang berdiri di sebelahnya, terhenyak ketika namanya disebut. “Mengapa harus aku yang maju, kangmas Kresna?” tanya Yudhistira. “Apa yang kau lihat itu, hai adikku?” Kresna balik bertanya.

“Aku melihat berjuta-juta mahluk berupa raksasa kerdil sedang menyerang banyak prajurit. Tidak hanya dari pasukan kita saja yang diserang, tapi pasukan Kurawa pun turut diserbunya. Aneh!,” jawab Yudistira.

“Itulah kedahsyatan Candrabirawa. Prabu Salya dulu mendapatkannya dari Resi Bagaspati, mertuanya, dan mertuanya itu memperolehnya dari wejangan arwah Sukrasana saat dia bertapa,” jelas Krisna. Hanya manusia yang berjiwa tenanglah yang sanggup menghentikan. “Majulah, hadapi kakekmu itu tanpa harus melawan. Turuti apa yg dikehendakinya. Bawalah panahku ini jika beliau memang menghendakinya,” kata Krisna.

Yudhistira lalu menerima sebuah panah bermata cahaya, lalu bergegas maju ke tengah kecamuk perang yang mengerikan dan aneh itu.

Setelah sampai di medan laga, Dada Prabu Salya bergetar ketika Yudhistira maju ke hadapannya dalam jarak beberapa puluh meter dalam sikap menyebah sebagai tanda bakti dan hormat.

“Mengapa yang maju justru engkau, hai anakku Yudhistira? Aku ingin lawanku adalah adikmu Bima yang gagah perkasa atau Arjuna yang pandai dalam memanah,” ucap Prabu Salya lantang.

“Aku datang menghadap hanya ingin minta tolong untuk menghentikan penyakit yang kau tebarkan itu. Aku tak tega menyaksikan ribuan orang yang menjadi korban keganasannya. Jika kau tak mau, segera bunuh aku daripada orang yang tak berdosa itu terbunuh. Jika aku mati, maka pihak Pandawa kalah. Itu sudah cukup,” jawab Yudhistira.

“Oh, Yudhistira. Tak semudah itu dalam perang ini. Jika kau ingin mati, maka panahlah aku dengan senjata di tanganmu itu, biar aku pun akan memanahmu dengan senjataku,” kata Prabu Salya justru menantang.

Maka, dengan setengah hati Yudhistira menyanggupi tantangan sang kakek, Prabu Salya. Busur panah CakraBaskara pemberian Kresna dilesatkan tanpa semangat, pun tak ditujukan ke arah lawan melainkan hanya menghadap ke bawah. Mata Yudhistira terpejam ketika senjata itu melesat lemah dari gandewa di tangannya.

Ajaib, busur panah itu justru melesat secepat kilat ketika terantuk tanah dan menghujam tepat di dada prabu Salya yang meremehkan semangat perang Yudhistira si lelaki lemah lembut itu.

Tak berapa lama terdengar suara menggelegar dan seketika itu Prabu Salya tersungkur tewas. Pasukan manusia kerdil tak kasat mata yang sedang menyerang semua orang itu menjadi terkejut dan menghentikan perbuatannya.

Tampaklah manusia dengan sinar suci berdiri, dengan tenang hingga membuat mereka menjadi lemah dan akhirnya musnah. Sejak kematian prabu Salya itu maka berangsur-angsur wabah aneh itu lenyap.

Prabu Salya / foto : wayangstore.com

Dalam cerita ini dituturkan bahwa penyakit aneh seperti Wabah Covid 19 di Indonesia sudah pernah ada sejak jaman Purwa Carita, lalu apa yang dapat kita petik dari cerita ini tersebut adalah tetap bersikap tenang, tidak panik, berfikir positif.

baca juga : Upaya Pencegahan Covid 19 di Tuban

Yudhistira rela maju di garda terdepan dan jika perlu mengorbankan dirinya untuk menghentikan wabah yang tercipta dari ajian Candrabirawa milik Prabu Salya yang merupakan kakeknya sendiri. Hanya manusia yang berjiwa tenanglah yang bisa menaklukannya. Bagaimana dengan kita? Mari bersama melakukan yang terbaik dengan tenang, tidak panik dan selalu berfikir positif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top