Siswa Asusila

Siswa Asusila VS Pendidikan Karakter, Siapa Unggul?

Video viral siswa asusila yang hingga saat ini masih jadi perbincangan hangat di Kabupaten Tuban tentu menuai banyak tanggapan. Yang pasti, semua kalangan menyesalkan tindakan yang dilakukan mengingingat oknum pelaku tindakan asusila tersebut adalah siswi sekolah tingkat kejuruan yang masih mengenakan atribut sekolah.

Kerabat siswa, khalayak umum di Kabupaten Tuban hingga ibukota Jakarta telah menyaksikan prilaku tak seronok dari oknum siswi tersebut, padahal, bukan rahasia umum jika Kabupaten yang dikenal dengan nama Bumi Wali itu sangat mumpuni dari sisi pendidikan religi.

Nyatanya, tindakan siswa asusila terjadi, dan hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, perlu adanya peningkatan kualitas pendidikan yang mampu membentuk karakter anak didik. Dan itu tak hanya dilakukan hanya di sekolah dan dirumah, dalam pergaulan keseharianpun harapannya anak didik mampu membedakan mana yang bisa dan boleh dilakukan dan mana yang tidak.

Siswa Asusila di Tuban
Apresiasi Guru dan Siswa Berprestasi di Riau

Pembentukan Karakter Lewat Kesantrian

Tak perlu jauh menelisik membangun pendidikan karakter untuk siswa dengan literatur lain, cukup dengan konsep di kesantrian melalui pesantren.

Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt; 2) Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara. Denga konsep ini kembali diulas, tentu tindakan siswa asusila tersebut sangat bisa diminimalisir atau bahkan nihil.

Dalam pengantarnya di buku Pendidikan Karakter Berbasis Tradisi Pesantren, KH. Said Aqil Siradj dalam pengantarnya (2014:xi) menegaskan bahwa pesantren merupakan lembaga pendidikan yang genuin dan tertua di Indonesia. Eksistensinya sudah teruji oleh zaman, sehingga sampai saat ini masih survive dengan berbagai macam dinamikanya.

Alhasil, pesantren memiliki posisi strategis untuk turut mengawal pengembangan pendidikan karakter. Pendidikan karakter merupakan upaya-upaya yang dirancang dan dilaksanakan secara sistematis untuk membantu peserta didik memahami nilai-nilai perilaku manusia dalam praktik kehidupan dalam masyarakat termasuk menghindar dari praktik siswa asusila.

Tak hanya harapan setiap orang tua, tetapi juga harapan bangsa jika dalam proses pendidikan, internalisasi nilai-nilai budaya dan karakter merupakan upaya untuk mencegah terjadinya degradasi etika dan moral di kalangan remaja. Tapi kenyataannya kemunculan prilaku negatif yang secuil selalu muncul dan mengkerdilkan bejana besar kebaikan yang telah terkonsep.

Tujuannya, jelas, bermaksud mencoreng nama baik sebuah daerah yang umumnya memiliki potensi untuk maju, besar dan digdaya bukan hanya dari sisi ekonomi tetapi kultural dan pendidikannya.

Siapa Unggul, Siswa Asusila Atau Pendidikan Berkarakter?

Melihat degradasi pendidikan mulai dari peserta didik hingga para pengajar yang hanya mengejar ketepatan kurikulum tanpa melihat dan mengamati kemampuan siswa, maka tak ada yang bisa menjamin jika pendidikan berkarakter akan berada di podium satu.

Terlebih lagi cara atau model terapan pengajaran yang disampaikan kepada peserta didik atau siswa yang belum bisa sepenuhnya diterima oleh siswa, itu juga yang menyebabkan ancaman bagi pendidikan berkarakter itu akan lemah dibandingkan dengan peringai asusila dari peserta didik.

Siswa Asusila
Guru honorer Asal Demak Protes

Sunardi memang tidak termasuk guru non PNS yang beruntung. Ia tidak mendapat Tunjangan Sertifikasi (TS), Tunjangan Fungsional (TF) dan lainnya. Jika di tahun 2019 ini masih terjadi, bukan tidak mungkin prilaku siswa asusila akan lebih unggul ketimbang pendidikan berkarakter yang diharapkan mampu mencetak peserta didik yang berhasil dan mampu membangun kota kelahirannya kelak.

Penulis : E. Haliyanti (Guru Senam, Bangilan, Tuban, Jawa Timur)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top