Pasangan Ideal Pemimpin Tuban 2020

Menanti Pasangan Pemimpin Tuban Ideal

Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia, Pilkada serentak akan digelar pada 9 Desember 2020. Kabupaten Tuban menjadi salah satu wilayah yang juga harus menggelar hajat demokrasi ini.

Belakangan, mulai ramai lagi wacana Pilkada Bupati di tengah pandemi Covid-19 yang belum berakhir, khususnya di Kabupaten Tuban. Para Bakal Calon Bupati (Bacabup) sudah ramai menyerukan klaim-klaim bakal mendapatkan tiket maju dalam kontestasi Pilkada Tuban sesungguhnya lewat rekomendasi Partai Politik (Parpol).

Jika saja benar, persoalan belum selesai. Mengawinkan para pihak penerima rekomendasi Parpol tidak mudah. Partai politik bisa saja menduetkan tetapi bagaimana dengan para penerima rekom? Apakah antara mereka sendiri saling ada kecocokan? Jangan karena “kepepet” dan memaksakan akhirnya rakyat dikorbankan. Rakyat menjadi tidak punya pilihan yang bisa berakibat fatal, menurunkan tingkat partisipasi dalam Pilkada. Padahal bagi masyarakat yang sudah masuk dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT), memilih adalah hak konstitusi sekaligus pemenuhan Hak Asasi Manusia (HAM). Masyarakat Tuban berhak mendapatkan pemimpin yang berkualitas, visioner, memiliki gagasan nyata dan masuk akal yang bisa membawa Kabupaten Tuban mendatang lebih baik.

Di Kabupaten Tuban, terdapat sejumlah nama Bacabup yang sampai akhir Juni 2020 masih konsisten dan terang-terangan terus maju mengikuti kontestasi Pilkada. Adi Widodo, Aditya Halindra , Eko Wahyudi, Muhammad Anwar dan Setiajit. Mereka merupakan bakal Cabup Tuban yang harus lebih dulu “click” satu dengan yang lainnya, jika nantinya mau “dikawinkan” . Termasuk urusan menyocokan diantara partai politik, karena mereka merupakan para Bacabup yang bukan representasi dari Parpol pemilik kursi mayoritas, seperti PKB yang bisa mengusung sendiri pasangannya.

Siapa Mau Turun Derajat Jadi Nomor 2 ?

Persoalan lain soal ego. Apakah diantara mereka mau turun derajat? Siapkah mereka “downgrade” menjadi Bakal Calon Wakil Bupati?

Pasangan Ideal Pemimpin Tuban 2020
Ilustrasi Siapa Mau Menjadi S2 – Sumber : freepik.com

Adi Widodo misalnya, Bacabup yang merupakan professional muda ini masih menyimpan rapat “Kartu AS” nya, soal siapa Parpol pengusungnya dan siapa calon wakilnya. AW begitu panggilan akrabnya, menyebutkan secara tegas soal konsistensi dirinya dalam Pilkada Tuban. Dalam akun youtubenya @AdiWidodoChannel , professional muda asal Bangilan, yang pernah menjadi pengurus inti Himpunan Pengusaha Nahdliyin DKI Jakarta ini dengan gamblang menyebut jika dirinya istiqomah maju sebagai Calon Bupati dan bukan Cawabup.

Sementara Eko Wahyudi, dalam beberapa bulan terakhir terlihat mulai “kendor” dalam pemberitaan kegiatannya. Tidak semasif pada awal-awal perkenalan para Bacabup Tuban sejak pertengahan tahun 2019 lyang selalu menyuarakan membidik kursi Tuban 1. Eko Wahyudi dalam beberapa waktu terakhir juga sempat ikut-ikutan menyuarakan klaim direkom Partai Gerindra.

Lalu Bagimana dengan Aditya Halindra yang sudah digaungkan oleh basis massa Partai Golkar?, atau Ada lagi Ketua DPC Partai Demokrat Tuban De Anwar yang terang-terangan mengaku dapat surat tugas dari partainya. Ataupun Kepala Dinas ESDM Jawa Timur, Setiajit yang merasa semakin yakin mendapat rekom PDI Perjuangan.

Bersediakah diantara mereka berpasangan? Belum tentu. Relakah mereka menjadi nomor 2? Belum tentu. Apakah antara mereka ada kecocokan? Juga belum tentu. Sengkarut ini bukan tidak mungkin membuat mereka tersandera sendiri dengan rekomnya.

baca juga : Mungkinkah Food Estate Berhasil di Tuban?

Lalu Bagimana dengan Parpol? pasti Parpol punya cara tersendiri mencari jalan keluarnya jika benar ada deadlock dengan penerima mandat rekom. Apalagi saat ini rekomendasi sebenar-benarnya belum ada yang pasti, karena faktanya belum ada satupun Parpol yang terang-terangan menunjuk salah satu Bacabup Tuban.

Untung-Rugi Bacabup Pertaruhan Jabatan Masuk Gelanggang Pilkada Tuban

Lain rekom, lain pula soal pertaruhan jabatan diantara para Bacabup. Faktanya, ada diantara mereka harus mempertaruhkan jabatannya dalam karir politik ataupun birokrasi.

Politisi Golkar, Aditya Halindra salah satunya. Putra mahkota mantan Bupati Tuban selama dua periode ini bisa beresiko kehilangan statusnya sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Timur sesuai dengan Undang-undang Pemilu. Ia harus mundur jika ingin berkompetisi dalam pentas Pilkada Bupati Tuban 2020 nanti.

Padahal karir Lindra dalam kancah Politik masih sangat moncer untuk bisa maju sebagai politisi di kancah nasional. Lindra masih sangat muda, segar dan berpotensi akan menjadi politikus handal jika ditempa dengan pengalaman berpolitik daripada harus terburu-buru memaksakan duduk di komando eksekutif.

Sedangkan soal pertaruhan jabatan Setiajit lain lagi. Meski saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas ESDM Jawa Timur, jikalau kelak gagal kembali dalam konstestasi Pilkada Tuban, Setaijit tidak terlalu merugi, mengingat pada tahun 2021 ia sudah harus pensiun sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN).

Birokrat yang segera memasuki masa pensiun ini sudah berpengalaman mengikuti Pilkada. Sebelumnya Setiajit pernah ikut meramaikan pertarungan Pilkada Tuban namun belum bisa merebut suara pemilih, karena hanya meraih 6,6 persen suara pemilih. Kenapa hanya memperoleh suara minoritas? Dan kenapa sosoknya kurang diminati? Masyarakat Tuban lah yang paling tau jawabannya.

Ada lagi nama yang juga sudah “berpengalaman” merasakan pahit-getirnya kekalahan dalam kontestasi Pilkada. Sebut saja politisi Partai Demokrat Tuban Muhammad Anwar atau akrab disapa De Anwar. Ketua DPC Partai Demokrat ini pernah mengikuti Pemilihan Bupati Tuban. Tetapi ia harus menelan pil pahit gagal melenggang ke Pendopo Kabupaten Tuban karena hanya meraih 5,83 persen suara bersama pasangannya. Pengalaman menyesakkan juga pernah dirasakannya ketika gagal terpilih dalam Pemilu Legislatif lalu.

De Anwar seperti masih penasaran dengan kompetisi merebut suara masyarakat di Tuban. Bisa jadi, ia membidik kursi Bupati Tuban untuk kedua kalinya ini karena tidak ada konsekuensi harus kehilangan jabatan sebagai Ketua DPC Partai Demokrat Kabupaten Tuban. Ia bisa terus didapuk kader Demokrat sebagai orang nomor satu di Partai Demokrat Tuban walaupun nantinya belum beruntung memenangkan mandat masyarakat Tuban, yang artinya harus mengulang kembali sejarah kekalahannya dalam Pilkada.

baca juga : Pilkada Era New Normal? Ini Kata Bacabup Adi Widodo

Mencari pasangan ideal untuk memimpin Kabupaten Tuban mendatang memang bukan perkara sembarangan. Demi kemaslahatan Bangsa dan Negara, khususnya untuk kepentingan masyarakat Tuban, harusnya menjadi pertimbangan paling utama, selain jejak rekam masing-masing bacalon. Siapa paling inovatif? Siapa paling visioner? Siapa paling bisa diterima di semua kalangan? dan Siapa yang paling berpotensi membawa Tuban mendatang lebih baik itulah yang semestinya diusung.

Pasangan Ideal Pemimpin Tuban 2020
Ilustrasi Untung Rugi Pertaruhan Bacabup Tuban – sumber freepik.com

Memilih Kepala Daerah juga harus mempertimbangkan kualitas, jejak rekam sikap dan prilakunya serta kompabilitas, yakni kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan kebijakan pemerintah pusat dan mengakomodasikan kebijakan di tingkat bawahnya maupun cakap dalam menyikapi tuntutan dari para votter-nya. Jadi, siapapun yang memilikinya pantas untuk menjadi pemimpin Tuban mendatang yang lebih baik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top