Menguak Mimpi 'komandan' Lapas Kelas IIB Tuban

Menguak Mimpi ‘komandan’ Lapas Kelas IIB Tuban

SEBAGAI pucuk pimpinan di Lapas Kelas IIB Tuban, pria asal Banjarnegara Jawa Tengah ini tak ingin hanya menyelesaikan tugas keseharian dengan menerima laporan dan mengecek personil serta keadaan para warga binaan permasyarakatan (WBP). Di Sepanjang pengabdiannya kepada negara dibawah kementrian hukum dan HAM hingga saat ini, Ia justru menyimpan sebuah mimpi yang sejak lama tersimpan untuk para penghuni bui.

Bekerja sebagai sipir penjara tentu bukan hal yang mudah, meski begitu, Sugeng Indrawan terus memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara ketika menjalankan tugas. Tak hanya di satu tempat, luar pulau Jawa-pun telah dilakoni dengan tulus hingga berbekal segudang pengalaman.

Soal karakter warga binaan permasyarakatan (WBP), tentu tak perlu diragukan lagi karena ia telah mengetahi benar seluk beluk keinginan dan yang tak diinginkan oleh para penghuni lapas. Termasuk di lapas kelas IIB Tuban, Jawa Timur yang dibawahi langsung.

Perlahan tapi pasti, sebuah mimpi yang dipercaya merupakan sebuah solusi kecil dari pemikirannya selama ini mulai dituangkan bersama rekan sejawat dalam lapas kelas IIB Tuban. Mimpi itu adalah menciptakan sebuah bekal untuk para warga binaan berupa program pemberdayaan dan pembelajaran yang tak melulu menciptakan karya konvensional seperti sapu atau karya lainnya.

Menguak Mimpi 'komandan' Lapas Kelas IIB Tuban
Sugeng Indrawan Bersama WBP di Area Percontohan Kecamatan Merakurak, Tuban

‘komandan’ lapas kelas IIB Tuban itu ingin meningkatkan kreatifitas warga binaan permasyarakatan dengan memberikan alternatif karya berupa keahlian berkebun, keahlian bertani, keahlian mengelola peternakan, keahlian membudidayakan ikan hingga karya lain yang pada akhirnya nanti bisa menjadi bekal para WBP dikemudian hari saat ia kembali ke masyarakat.

Selesaikan Dua “pekerjaan rumah” Untuk Realisasikan Mimpi

Dengan inisiasi tersebut, maka ada 2 pekerjaan rumah yang tersisa, yakni proses verifikasi untuk warga binaan itu, dan yang kedua adalah lahan yang harus disiapkan untuk merealisasikan program keahlian tersebut. Dan itu bukanlah hal mudah. Belum lagi soal dana, tak ayal, KA Lapas harus putar otak untuk bisa merealisasikan mimpi yang telah dimiliki sejak lama.

Sadar bahwa mimpi yang dimiliki tak mudah untuk dilakukan, maka tim kecil internal didalam lapas kelas IIB Tuban sengaja dibuat untuk mensukseskan program ini, satu-persatu rencana di dalam lembaga permasyarakatan lebih dulu disesuaikan dengan prosedur tetap (ProTap), rekrutmen, hingga proses asimilasi. Semua dilakukan sesuai aturan yang ada dan berlaku.

Menurut KA Lapas, sebelum melakukan rekrutmen, tim yang dibentuk lebih dulu melakukan assesment dan juga sidang untuk menggali potensi WBP dan itu merupakan protap yang telah berlaku sejak lama di lembaga permsayarakatan dan boleh untuk dilakukan sesuai dengan aturan yang berlaku. Artinya, satu persoalan bisa dilalui tanpa halangan.

“Jadi ketika mereka kami lihat dan analisa dari assesment dan dari sidang TPP layak untuk bisa mengikuti pelaksanaan kegiatan, maka kita bisa putuskan dia akan ikut, kita mempertimbangkan dari situ”

Sugeng Indrawan, KA Lapas Kelas IIB Tuban

Sementara untuk lahan yang akan digunakan untuk menempa keahlian baru WBP, pak Sugeng (panggilan akrab KA Lapas Kelas IIB Tuban), langsung membuka komunikasi dengan beberapa instansi seperti dinas perhutani, dinas peternakan, dinas perikanan, dan instansi lain untuk bisa menjadi pendukung program.

Alhasil, gayung bersambut, dinas perhutani langsung menyambut baik program tersebut dan meyediakan lahan seluas 2,3 hektar are di kecamatan Merakurak untuk dijadikan sebagai lahan percontohan program pembekalan untuk WBP. “Diharapkannya, dengan kerjasama ini, bertujuan untuk mendidik, membina agar saudara kita yang ada di lembaga permasyarakatan ini memiliki kegiatan positif dan berdampak untuk kemampuannya berkarya setelah keluar,” ujar ASPER Merakurak, Tuban, Kiswanto.

Menguak Mimpi 'komandan' Lapas Kelas IIB Tuban
WBP Lapas Kelas IIB Tuban Yang Ikut Program Pemberdayaan Dan Lolos Verifikasi

Mengapa program pemberdayaan untuk warga binaan yang berasal dari sebuah mimpi ini perlu banyak sekali tahapan? Anda tentu bertanya. Jawabanya adalah; tidak ingin ceroboh yang akhirnya bisa berakibat fatal.

Ini merupakan mimpi yang sudah disiapkan sejak lama untuk dijakdikan sebuah kenyataan, dan semua telah melalui proses pengkajian setiap waktu guna pematangan hingga siap dijalankan.

Realisasi Mimpi Pak Sugeng di Kuartal IV 2018

Perjalanan panjang dan persiapan matang yang dilakukan untuk menjadikan program pemberdayaan WBP (warga binaan permasyarakatan) di lapas kelas IIB Tuban menjadi sebuah percontohan lembaga permasyarakatan lain di Indonesia bukan tidak mungkin terjadi. Pasalnya, catatan www.tubanmendatang.com tentang data lembaga permasyarakatan yang memiliki program seperti yang diinisiasikan oleh KA Lapas Kelas IIB Tuban nyaris tidak ada.

Kekhawatiran terbesar para sipir dan khalayak umum adalah terjadinya hal yang tidak diinginkan hingga mengakibatkan narapidana tersebut melarikan diri atau membuat onar. Tetapi itu telah ditepis sudah oleh kamitua lapas IIB Tuban dengan proses yang dilakukan sebelum WBP itu diajak untuk mengikuti program. Mulai dari analisa pengamatan, sidang TPP hingga proses asimilasi. Semua dilakukan sehingga pak Sugeng sangat menjamin jika program ini aman untuk dilakukan.

Dengan pemenuhan cara yang baik dan sesuai dengan UU yang ada maka bukan tidak mungkin para instansi terkait yang diajak terlibat akan merasa yakin jika program pemberdayaan WBP untuk memberikan ketrampilan lebih tersebut sangat aman. Dan bukan tidak mungkin akan melibatkan para pengusaha untuk bekerjasama.

Tepat 22 September 2018 lalu, budidaya ikan lele, penanaman beberapa jenis sayur seperti kubis dan sawi, buah-buahan hingga peternakan ayam, kini telah berdiri dan beraktifitas di lahan milik perhutani seluas 2 hektar.

“Awalnya saya merasa ragu, tetapi ketika dijabarkan prosedur serta cara kerja yang dilakukan oleh para petugas maka saya beranggapan bahwa ini merupakan cara yang baik, cukup aman untuk melakukan kerjasama dan bisa dipertanggung jawabkan,” papar Kiswanto kepada tubanmendatang.com.

Menguak Mimpi 'komandan' Lapas Kelas IIB Tuban
ASPER Perhutani Tuban, Kiswanto

Ia juga menambahkan jika kerjasama yang dilakukan oleh Lapas IIB Tuban merupakan sebuah pilot project untuk di lahan lain jika berhasil maka perhutani akan memperluas lahan yang bisa digunakan oleh lapas IIB Tuban untuk program tersebut. “Januari 2019, pak Ka Lapas setuju dengan kegiatan penyulingan daun kayu putih yang kemudian minyaknya akan dibeli oleh perhutani,” jelas Kiswanto.

Dengan aktifitas yang berjalan saat ini di kecamatan Merakurak maka bukan hanya memberikan keahlian untuk para WBP, tetapi juga kesejahteraan WBP, sehingga saat tak lagi menjadi narapidana WBP akan memiliki keahlian dan kembali berkehidupan dengan masyarakat dan keluarga.

“Ini adalah sebuah langkah kecil kami di Tuban, mudah-mudahan saja bisa bermanfaat dan menginspirasi teman-teman di daerah lain. Tanpa support dari perhutani Tuban, instansi pemeritah lain, jajaran Kami dan teman-teman warga binaan yang ada bersama kami maka progra ini tidak bisa berjalan,” papar Sugeng.

Menguak Mimpi 'komandan' Lapas Kelas IIB Tuban
Ka Lapas Kelas IIB Tuban

Sebagai pemangku tertinggi di lapas IIB Tuban, Sugeng Indrawan juga mengaku tidak bisa memberikan hadiah kepada teman-teman warga binaan, semoga disuatu kesempatan nanti ketika kembali ke keluarga bisa bermanfaat lewat pembelajaran yang ada di sini walaupun tidak sama namun mereka bisa mampu mengimplementasikan dan membuktikan bahwa mereka itu mmpunyai disiplin dan niat.

“Harapanya, kami sangat idealis, dan semoga bisa berbuah baik, sehingga bisa mensinergikan beberapa pihak termasuk pemda, LSM, dan para pengusaha,” tutup KA Lapas Kelas IIB Tuban, Sugeng Indrawan sebagai penggagas mimpi yang telah dirubah menjadi nyata untuk bekal para WBP.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top