Tumbangnya Para Pendekar Silat Lidah

Hikmah Dibalik Tumbangnya Para Pendekar Silat Lidah

Oleh : Sujatmiko Wahyu

Apa hikmah yang bisa diambil dari tumbangnya para pendekar silat lidah? Berteriak lantang, serang sana serang sini, namun akhirnya harus terpuruk karena terkuaknya perilaku yang tak sesuai dengan ucapan.

Tokoh agama yang lantang membawa nama Tuhan hanya untuk melampiaskan hawa nafsunya, hingga banyak tokoh laksana manusia suci yang tak berdosa, menyerang dan menuding lawan politiknya, sehingga selalu disibukan untuk menggali keburukan lawannya.

“Masalah moral, masalah akhlak biar kami cari sendiri, urus saja moralmu, urus saja akhlak mu” mungkin kutipan lagu Iwan Fals yang berjudul manusia setengah dewa ini bisa menjadi gambaran bahwa permintaan masyarakat akar rumput sangat sederhana, terkait perut dan keadialan hukum.

Banyaknya tokoh politik yang teriak tentang moral, pembelaan kepada orang kecil, berkamuflase menjadi orang suci, ternyata tak akan pernah lama bersilat lidah. Sepertinya Tuhan juga merasa bising dengan teriakan-teriakan tersebut, hingga disingkapnya aib-aib yang dimiliki orang tersebut.

Peristiwa tertangkapnya politisi Demokrat, Andi Arief menjadi pergunjingan, bahkan amunisi untuk saling serang atas kerusakan moral seseorang. Bahkan sesuatu yang mungkin terjadi, jika pengkritisi moral tersebut akhirnya disingkap Tuhan atas aib-aib dirinya.

Mungkin tidak perlu dituliskan siapa-siapa tokoh pendekar silat lidah yang harus tumbang karena topeng-topengnya terkuak. Meski demikian, nilai yang harus diambil setiap orang untuk menjaga lisannnya menjadi pilihan tepat di tahun politik ini.

Masyarakat Indonesia yang berbudaya luhur ini pun memiliki kebijakan lokal melalui kata-kata mutiara yang ditujukan sebagai pengingat. Mulut Mu Harimau Mu, itu merupakan salah satu petuah yang paling banyak disebutkan untuk mengingatkan, bahwa mereka yang tak mampu menjaga lisannya, kerap menyakiti orang lain melalui lisannya, suatu saat akan jatuh disebabkan oleh lisannya.

Seperti juga yang tertuang dalam ajaran Islam, bahwa berhati-hatilah dengan lisan yang diutarakan dan itu menjadi petuah yang kerap kali diingatkan Rosulullah SAW agar umatnya menggunakan lisan dengan baik dan mampu menjadi panutan karena memiliki lisan serta tabiat baik.

4 Syarat Dalam Menjaga Lisan

Dalam konteks dijaman milenial saat ini tentunya ketajaman lisan bukan disebabkan oleh lidah saja, tetapi dari jari jemari yang melempar tulisan hoax, serangan berupa cacian hingga memproduksi konten yang berisi fitnah dan tak memiliki nilai kebenaran.

Berikut adalah beberapa hal yang perlu diketahui bahwa perkataan baik secara verbal atau tulisan bisa berada di saluran yang baik dan benar apabila;

Berkatalah Dengan Perkataan Yang Benar

Maksudnya ketika hendak berkomunikasi dengan orang lain, maka berbicara dengan benar. Pastikan yang keluar dari mulut bukan sebuah kebohongan, sehingga kata-kata atau broadcast yang disebarkan memiliki nilai kebenaran yang dipertangungjawabkan.

Berbicaralah sesuai pada tempatnya

Tiap perkataan itu ada tempat terbaik dan setiap tempat memiliki perkataan (yang terucap) yang terbaik pula. Maksudnya, tidak setiap kata sesuai dengan tempatnya. Begitu juga sebaliknya, tidak setiap tempat sesuai dengan perkataannya. Sikap hati-hati dalam bertutur membuat mereka yang memiliki keluasan ilmu lebih memilih banyak diam dari pada bicara.

Jagalah Kehalusan Tutur Kata

Tutur kata yang lembut merupakan buah dari akhlak yang diperlihatkan. Mengolah kata-kata yang keluar agar tidak menyakiti seseorang menjadi pertimbangan yang sangat penting. Ketika banyak kata-kata yang keluar saling menyerang dengan hinaan mewarnai tahun politik saat ini maka setiap makhluk tuhan khususnya di Indonesia dituntut untuk mengeluarkan potensi kemanuasiaannya agar tidak terpancing dengan istilah yang ada saat ini seperti hoax hingga ujaran kebencian.

Berkatalah yang Bermanfaat

Makin banyak bicara, semakin banyak kemungkinan lidah terpeleset, makin banyak pula masalah dan dosanya. Perlu diketahui bahwa orang yang selalu menelurkan kata-kata yang bermanfaat tentu dari olah rasa antara pikiran dan hatinya. Sedangkan mereka yang kerap berkata jelek tentu mencerminkan keburukan dari pikiran dan hatinya.

Hikmah Dibalik Tumbangnya Para Pendekar Silat Lidah
young adult man holding hand over his mouth over grey background

Semoga saja dengan tumbangnya para pendekar yang pandai bersilat lidah akan memberikan pencerahan baru dan edukasi untuk yang kesekian kalinya bagi masyarakat dan dunia politik di Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top