Ngaji Budaya Tuban

Gus Umar Fayumi Ajak Masyarakat Mengenal Historis Kedigdayaan Tuban Lewat Ngaji Budaya

Perhelatan akbar safari budaya yang digagas Komunitas Pemerhati Budaya Jatirogo Tuban Jawa Timur menuai respon positif dari masyarakat Tuban. Ratusan masyarakat Tuban dari berbagai wilayah di sekitar kecamatan Jatirogo antusias mengikuti safari budaya yang dikemas dalam “Ngaji Budaya” pada akhir pekan lalu (7/3) dengan menghadirkan KH. Abdullah Umar Fayumi atau Gus Umar dan Kelompok musik Ki Ageng Qithmir.

Ngaji Budaya ini merupakan rangkaian dalam Kegiatan safari budaya yang memang sengaja saya gagas untuk mengajak seluruh elemen masyarakat Tuban mengingat kembali sejarah Tuban yang begitu besar agar harapannya bisa membangkitkan kembali semangat masyarakat Tuban untuk membangun.

Ketua pelaksana “Ngaji Budaya” di Jatirogo, Dadija Oetomo menilai, perhelatan ini merupakan momentum yang ditunggu masyarakat Tuban. Budayawan yang juga seorang pendidik ini meyakini kegiatan budaya bisa menjadi media untuk menggugah semangat pembaruan di Tuban.

“Saya sangat merespon positif ide rekan-rekan Komunitas Pemerhati Budaya di Kecamatan Jatirogo untuk menggelar kegiatan Budaya di Tuban. Karena dengan membuat forum-forum kajian budaya seperti ini, bisa menjadi literatur generasi muda yang belum memahami budaya luhur di Tuban,” tambahnya.

Dalam “Ngaji Budaya” yang digelar selama lebih dari 3 jam itu, Gus Umar Fayumi selaku pengisi acara secara gamblang menjabarkan sejarah Tuban. Ia membahas lebih dalam keterkaitan para tokoh–tokoh leluhur yang menjadi aktor penting dalam sejarah terbentuknya Kabupaten Tuban.

“Membedah sejarah Tuban harus dilihat secara utuh. Jangan dimaknai secara parsial saja. Mulai dari zaman Mbah Joyoboyo, Mpu Gandring, Mbah Joko Tingkir, sampai Mbah Ronggolawe dan Gajah Mada. Bahkan hingga era lahirnya para Wali. Semua ada keterkaitan dan ada makna-makna besar yang bisa kita pelajari dari para leluhur itu,” jelas Gus Umar kepda para penonton ketika itu.

Dalam kajiannya, Gus Umar juga mengingatkan untuk cermat dalam memilih pemimpin “Pemimpin beda dengan penguasa. Pemimpin itu mengayomi sedangkan penguasa cenderung ingin menguasi,” imbuhnya.

Hadir dalam acara tersebut beberapa tokoh salah satunya adalah Adi Widodo yang digadangkan telah mencalonkan dirinya untuk maju dalam perhelatan pemilihan Bupati Tuban tahun ini. Kemudian ada juga Doktor Sariban yang cukup lama menekuni kebudayaan, lalu Didik Mukriyanto anggota DPR RI, serta Mujoko Sahid budayawan Tuban Selatan. Semua duduk bersama penonton mendengar ulasan budaya Gus Umar Fayumi dan musik kontemporer modern persembahan Ki Ageng Qithmir.

Sepakat dengan Gus Umar, Adi Widodo menambahkan figur pemimpin juga harus membumi. “Pemimpin itu juga harus membumi, dekat dengan rakyat. Turun langsung ke masyarakat tidak hanya sekedar bekerja dibelakang meja dan terima laporan saja. Dengan ini saya yakin kebijakan yang akan diambil sesuai dengan harapan masyarakat,” ungkapnya.

Doa-Bersama-Gus-Umar-Usai-Event-Ngaji-Budaya/ foto : tubanmendatang.com

Kesuksesan gelaran “Ngaji Budaya” di Jatirogo Tuban, membuat Adi Widodo yakin jika Tuban bisa kembali besar dan digdaya setelah masyarakat Tuban mempelajari sejarah Tuban secara utuh. Bakal Calon Bupati ini bahkan menjanjikan kegiatan budaya sebagai salah satu program kerjanya jika terpilih sebagai orang nomor satu di Kabupaten Tuban kelak. “Saya sudah menyiapkan program untuk menghidupkan kembali budaya luhur di Tuban yang selama ini seperti “dimatikan”. Insha Allah ini akan saya wujudkan jika saya mendapat mandat dari masyarakat Tuban,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top