Pemimpin Tuban

Antara Pemimpin, Kearifan Lokal dan Jati Diri

Tersendatnya alih generasi kepemimpinan saat ini harus diterobos, kaum muda harus berani bermimpi untuk memimpin dalam skala dan cakupan apapun. Jika melihat konsep kepemimpinan yang terkandung dalam ‘sepi ing pamrih rame ing gawe, memayu hayuning bawono’ merupakan citra yang dibutuhkan, bukan hanya untuk Kabupaten Tuban, tetapi bangsa ini, negara kesatuan republik Indonesia.

Pemimpin yang menjalankan kekuasaan dengan menempatkan kepentingan rakyat diatas segalanya, ikhlas mengemban tugas dan tanggung jawab, jujur dan berdedikasi demi menciptakan keindahan tata sosial dengan mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan rakyat, itu tentu menjadi kerinduan kita semua.

Jujurlah. Akui jika kita itu hidup seperti orang yang menumpang dalam hotel kepunyaan orang lain, tak punya hasrat untuk memperbaiki atau bahkan menghias rumah yang ditempati karena tak ada rasa. Padahal, rumah itu adalah rumah kita sendiri.

Perlu diingat, selama kita berpisah dengan kearifan lokal, merendahkan bahasa kita, seni kita, keadaban budi pakerti kita, maka janganlah berharap akan hakikat sebuah kemerdekaan.

Tanpa sadar, kita telah dipaksa harus mengembangkan jatidiri dalam orientasi keterbukaan dengan dunia luar, lalu, apa yang kita lakukan? Secara teori, untuk merealisasikan orientasi itu adalah membuktikan bahwa kita mampu bekerja keras, telaten dan tekun untuk bisa mewujudkan bahwa karya dan inovasi yang telah dibuat adalah kenyataan yang bisa dibuktikan, tidak semu.

Orientasi keluar dengan disiplin kerja yang tinggi itu harus diperkuat dengan nilai dasar tradisi,sehingga proses modernisasi tersebut lahir dan terwujud dengan tidak menghilangkan jatidiri bangsa sendiri.

Sayang, pada kenyataannya, inilah potret klise keadaan kita. Kebohongan sudah menjadi iklim sehingga yang tidak bermaksud bohong-pun terpaksa ikut berbohong

Parahnya, kebohongan itu dijadikan sebagai sarana berkomunikasi, hingga akhirnya masing-masing mengetahui satu sama lain dalam bejana kebohongan. Kalau mereka tidak hidup dari kebohongan, mereka akan tertinggal dan tak bisa menjadi apa apa. Ini realita.

Terbukti dengan munculnya krisis kepemimpinan yang sudah menunjukkan pertanda dengan gejala seperti; merebaknya rasa individu di setiap sudut desa dan kota, matinya rasa empati, miskinnya rasa sosial, merebaknya krisis komitmen, terkikisnya rasa tanggung jawab, hingga kemampuan mengalokasikan kredibilitas diri bisa dilakukan dengan baik oleh seseorang.

Semua bertumpu pada pemimpin. Seorang pemimpin yang bijak tidak hanya meminta masyarakat untuk mematuhinya, tapi justru sebaliknya, seorang pemimpin yang harus menteladankan loyalitas dan rasa cinta pada rakyatnya

Mujoko Sahid

Prinsip kata kunci dari kepemimpinan adalah, pengabdian pada kemanusiaan yang didasari pada kemauan dan kemampuan menundukkan nafsunya sendiri.

Mujoko sahid, Forum Kajian Pojok Tuban Selatan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top